DI BALIK KONSPIRASI COVID-19. JADI COVID-19 ITU ADA?

            Setahun pandemi Covid-19 mewabah di Indonesia, banyak sekali teori konspirasi yang ikut mewarnai sumber-sumber informasi terkait hal ini di tanah air. Teori konspirasi yang paling banyak dipercaya masyarakat adalah dikarenakan motivasi utama perusahaan farmasi dalam menyediakan vaksin Covid-19 adalah untuk mengejar keuntungan yang besar dan Covid-19 adalah penyakit buatan manusia yang digunakan untuk menguntungkan industri formasi dunia. 

            Jadi, Covid-19 itu ada? Ironisnya, kepercayaan terhadap adanya berbagai ragam konspirasi mengenai virus ini, telah berdampak pada sebagian orang dan bahkan harus meregang nyawa. Meskipun demikian, bukan berarti sisanya tidak percaya. Hasil survei menunjukkan masyarakat yang masih ragu terhadap teori konspirasi justru mendominasi. Dan rekor kasus pandemi harian Indonesia saat ini mencapai 20.574 kasus. Sebagian besar masyarakat Indonesia pengguna layanan digital mengakses informasi Covid-19 melalui sosial media dan sebanyak 81,5% masyarakat masih bersinggungan dengan berbagai bentuk postingan yang memuat teori konspirasi. 

            Di mana makin banyak pula informasi-informasi palsu yang bertebaran di media sosial. Sebuah studi yang diterbitkan dalam American Journal of Tropical Medicine and Hygiene pun merinci contoh rumor yang menyesatkan, teori konspirasi, dan stigma seputar pandemi. Salah satu hoaks yang populer, yakni mencatat nama Bill Gates yang dituding merupakan sosok pembuat virus Corona/ Covid-19 yang sengaja disebar untuk membuat Presiden AS Donald Trump tidak terpilih di pemilihan presiden berikutnya.

            Faktanya, pendiri Microsoft Bill Gates berani berinvestasi besar untuk mengembangkan vaksin Covid-19 melalui sejumlah yayasan yang dipimpinnya. Di sisi lain, terdapat pula informasi yang salah dan menyesatkan yang dilabeli Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai infodemik yang menjalar lebih cepat daripada virus. Hingga akhirnya terdapat kendala program vaksinasi Covid-19 terutama di Indonesia.

            Program vaksinasi Covid-19 di Indonesia bukanlah sebuah upaya yang mudah. Di samping hal-hal yang berkaitan dengan upaya pengadaan, respons masyarakat terhadap vaksin itu sendiri menjadi salah satu kendala. Melihat bahwa informasi media sosial di berbagai platform berpengaruh terhadap pandangan masyarakat atau warganet (termasuk kepercayaan terhadap teori konspirasi) serta persepsinya dalam keikutsertaan program vaksinasi Covid-19 pemerintah. 

            Ada yang tidak percaya atau bahkan percaya namun berspekulasi dirinya sudah vaksin dan tetap positif Covid-19. Jadi, dari beberapa sumber yang telah saya baca dan amati, vaksin tugasnya merangsang supaya antibodi bisa berkenalan sama virus barunya, agar saat benar-benar terpapar Covid-19, antibodi sudah siap tempur. Bukan setelah vaksin menjadi kebal Corona.

            Lantas, bagaimana dengan yang punya riwayat penyakit? Apakah sebaiknya jangan di vaksin? Sebenarnya, vaksin itu aman untuk segala riwayat macam penyakit. Tapi akan lebih baik, jika kita konsultasi ke dokter terlebih dahulu jika merasa khawatir terkait riwayat yang diderita. Perlu diketahui pula bahwa menurut penelitian, dengan vaksin Sinovac, perlu waktu tiga bulan atau 90 hari setelah suntikan kedua untuk mendapatkan imunitas 98%.

            Pandemi ini mungkin saja bermula dari sebuah konspirasi. Percaya apa yang kita percaya. Tapi, kita melewati fase itu. Ini virusnya nyatanya telah ada, yang terpapar juga jutaan, dan yang meninggal lebih dari 50.0000 orang. Dokter dan Nakes lainnya pun kewalahan, lebih kewalahan dari puncak Covid-19 di tahun 2020. Dan perlu diketahui pula bahwa ada Covid-19 itu bukan berarti penyakit lain di dunia ini hilang. Ada orang-orang yang harus kontrol tiap bulan even sebelum ada Covid-19, ada yang harus komoterapi, ada pula yang harus operasi, dan keadaan-keadaan lainnya yang mengharuskan orang-orang sakit datang ke Rumah Sakit untuk memperjuangkan hidup mereka.

            Lebih parahnya lagi, mereka yang sakit ini berisiko terpapar Covid-19. Buat mereka terpapar Covid-19 mungkin bisa merenggut nyawa mereka dalam hitungan hari. Dan di balik lonjakan kasus Covid-19 di tanah air, ada yang lebih mengkhawatirkan yakni meningkatnya kasus Covid-19 pada anak-anak. Data ikatan dokter anak Indonesia menyebut 1 dari 8 orang pasien Covid-19 adalah anak-anak, dan yang lebih mengerikan lagi tingkat kematian anak-anak akibat Covid-19 di Indonesia ialah tertinggi di dunia.

            Konflik pun terjadi ketika para dokter dituduh ambil untung dan meng-covidkan pasien. Lantas, bagaimana jawaban dari para nakes ketika menghadapi stigma tersebut? Salah satu dokter dalam narasi ‘Mata Najwa’ menjawab (dr. Corona), “Terkadang bikin benci, tidak juga karena kita ini sudah tidak ada waktu untuk pikirkan itu. Fokus ke menyelamatkan nyawa, fokus untuk membagi pasien, kadang kita juga fokus untuk memilih, jangankan ventilator, terkadang rujukan kita harus memilih juga,” ujarnya.


            Apakah kita masih menyepelekan Covid-19? Apakah kita masih tetap ingin tidak mematuhi protokol kesehatan? Ingatlah, jutaan manusia kehilangan nyawanya. So, please, tidak semua orang punya imun sekuat Anda. Sistem layanan kesehatan di banyak negara pincang, bahkan lumpuh. Begitu pula perekonomian yang sampai sekarang masih jalan di tempat atau terseok-seok. Setidaknya, apa yang kami rasakan, tidak perlu dirasakan oleh orang lain. Masih ada celah untuk kita menolong dan lebih serius terkait virus mengerikan ini. Bahkan ada pasien yang terpaksa duduk di kursi, karena tidak mendapatkan tempat tidur. Untuk saat ini mungkin masih bisa bertahap, tapi kalau terus-terusan pasien seperti ini, pasti akan kehabisan obat dan perawatan lainnya. 

            Datangi pemakaman dan lihatlah kenyataan. Kematian itu tak sekadar angka statistik. Tetapi tentang saudara kita, orang-orang yang tadinya masih sehat, masih berkumpul dengan keluarga tercinta. Kini mereka dipisah selamanya. Ingatlah, bahwa setiap angka itu adalah satu kisah duka tak terkira. Sebagai akibatnya kita menyaksikan banyak kalangan yang menjadi korban seperti ketidakpercayaan sebagian masyarakat terhadap pandemi Covid-19 karena terpengaruh provokasi teori konspirasi. Dan tak sedikit pula masyarakat yang mengungkapkan kekesalan melihat kasus Covid-19 bertambah dan penyebar teori konspirasi merajalela.

            Masing-masing dari kita punya tanggungjawab untuk mengurangi penyebaran virus corona (Covid-19). Caranya dengan tetap di rumah saja jika tidak ada kepentingan atau pun keperluan yang mendesak untuk mengharuskan keluar rumah. Dan patuhilah protokol kesehatan. Jadi, kondisi di negara kita, Indonesia, memang sedang tidak baik-baik saja.



*_Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam UIN Sunan Ampel Surabaya_*    

Komentar